Gaya Pengasuhan Orang Tua Pengaruhi Pembentukan Kepribadian Anak
By Numanza Inc.

Pengaruh Gaya Pengasuhan Orang Tua Terhadap Anak

Numanza.Inc - Apakah gaya pengasuhan orang tua memiliki pengaruh terhadap kepribadian diri kita? Oh, jelas iya!

Banyak faktor yang mempengaruhi pembentukkan kepribadian. Salah satunya adalah gaya pengasuhan orang tua atau significant person (bisa juga pengasuh lain). Oleh karena hal itu, yang akan redaksi bahas bukan tipe kepribadian melainkan respon perilaku anak sebagai sampel dari kepribadian saat dewasa.

11 Gaya Pengasuhan Yang Dapat Pengaruhi Kepribadian Anak

Bersumber dari Henry Stein yang mengutip W. Hugh Missildine di buku Your Inner Child of The Past berlandaskan teori Individual Psychology, ada 11 gaya pengasuhan, antara lain:

1. Democratic and Encouraging

Anak diberikan kesempatan untuk berkembang sesuai kemampuannya, dianggap setara dan memiliki peran penting di keluarga, love & accepted, didorong untuk menerima tantangan namun juga dibimbing untuk mengatasinya. Ini merupakan the most ideal parenting.

S.O (sikap orang tua): menerima keunikan anak, mencintai, menghormati, dan merasa setara dengan anak (dalam arti, orang tua juga dapat menerima masukan dari anak). Selain itu, orang tua juga mendorong anak untuk memperbaiki kesalahan dan mengembangkan kapasitas. Serta membimbing anak untuk memiliki kontribusi.

R.A (respon anak): merasa aman, nyaman, dicintai, dan diterima. Memiliki kekuatan yang berasal dari pengalaman mengatasi kesulitan. Mempunyai kepuasan akan pencapaian dan kontribusi. Tidak takut untuk mencoba dan gagal. Melihat dunia sebagai tempat yang tidak menyeramkan karena feel secure & loved.

2. Over-indulgent

Anak hidup dengan berbagai kemudahan melalui layanan, materi atau hal-hal yang sifatnya non-emosional. Contoh: Membelikan barang mewah, memiliki banyak pelayan. Kalau kata orang jaman sekarang, spoiled banget. Akan tetapi membuat anak mudah bosan, pasif, dan tidak dekat dengan orang tua.

S.O (sikap orang tua): memberikan berbagai privilege, hadiah, layanan yang melimpah tetapi tidak paham dengan kebutuhan anak yang sebenarnya.

Ini merupakan tipe-tipe orang tua yang "Mama Papa saja yang berusaha, kamu tahu beres saja." Akhirnya tidak membiarkan anak untuk berupaya, terlalu memanjakan. Dan atau orang tua tidak begitu percaya dengan skill anak.

R.A (respon anak): Mudah cepat bosan, takut terlihat beda atau takut mencoba. Kehilangan inisiatif dan spontanitas. Berharap semua hal akan datang untuknya. Melihat orang lain sebagai pihak yang dapat menyediakan/ memenuhi kebutuhannya mendapatkan kesenangan. Menjadi pemalas dan prefer ngandelin/ merepotkan orang lain.

3. Over Submissive

Anak bagaikan baginda raja yang semua-muanya diyain, diturutin, dan dipenuhi segala permintaannya. Orang tua manut saja, yang akhirnya anak menjadi demanding (menuntut) dan impulsif (seenakya sendiri).

S.O (sikap orang tua): Menuruti segala rengekan, permintaan, suruhan, paksaan, impulsifitas anak. Anak dianggap seperti boss dan orang tua adalah pelayan.

*Noted: Tak pernah mengatakan tidak. Mikirnya, nurutin anak sama dengan membahagiakan anak. Padahal tak semestinya begitu bukan?!

R.A (respon anak): Melakukan apapun termasuk hal-hal dramatis agar keinginannya dipenuhi. Tidak perduli dengan kebutuhan/ kondisi orang lain, kerap tidak merasa puas dan suka memaksa. Kalau tidak dituruti, ada saja lakonnya. Yang ngambek lah, yang ngancem lah, yang murka lah.. Jadi harus banget keturutan.

Perbedaan Gaya Pengasuhan Point 2 dan Point 3.

Hal yang paling menojol dari perbedaan gaya pengasuhan point 2 dan point 3 adalah:

(2). Anak tidak meminta, namun di supply secara terus-menerus dan sebenarnya belum tentu ia butuhkan. (3). Anak meminta, kemudian diturutin dengan anggapan agar anak tidak drama.

Lantas, adakah persamaan dari keduanya?

Tujuannya adalah, maksud hati ingin nyenangin anak, namun caranya tidak membuat anak memiliki kepribadian yang tangguh.

4. Over Coercive

Anak seperti halnya (maaf) binatang yang dilatih. Orang tua terus-menerus memberikan arahan atau bahkan perintah yang sifatnya mutlak.

Apapun yang terjadi, anak harus nurut dengan dalih "Ini yang terbaik untuk kamu" dan biasanya juga, ada kata "HARUS."

S.O (sikap orang tua): Supervisi dan arahan yang konstan, intruksi seperti tidak ada habisnya. Selalu mengingatkan berkali-kali.

Sebagai contoh: "Pokoknya kamu harus nurut, kamu harus pakai ini, kamu harus begini, setelah ini begini. Inget ya!!"

R.A (respon anak): Ada 3 (tiga) kemungkinan responnya.

1). Submisif: nurut, patuh banget, penakut. 2). Rebel: mulai dari penolakan verbal, berontak secara nyata (overt defiance). 3). Passive-resistance: memendam, mengabaikan, berontak secara licik (covert defiance).

Sebagai contoh: 1). "Iya mah/ pah" ~ setelahnya ya sudah patuh saja. 2). "Ih apaan sih ngatur-ngatur terus!" ~ Jadinya marah-marah dan kabur. 3). "Iya mah/ pah" ~ Tetapi diam-diam punya rencana jahat terhadap orang tuanya seperti di sinetron. Tidak sedikit pula muncul di berita, anak membunuh orang tuanya sendiri.

5. Perfectionistic

Anak bagaikan runner yang harus berlari dengan finish line yang ditetapkan orang tuanya. Namun ketika anak mencapai garis finish, orang tua kerap merasa tidak puas dengan hasil yang diraih sang anak, bahkan masih meminta anak untuk terus menaikkan standar kemampuannya.

S.O (sikap orang tua): Hanya akan menerima anak kalau anaknya berhasil dan sesuai harapan saja. Bersikap senewen jika anak gagal.

Sebagai contoh:

"Nah, gitu doong.. anak papah memang hebat!" ~ ketika anak meraih peringkat 1.

"Gitu saja tidak becus, papah kurangi uang jajan kamu!" ~ ketika anak tidak mendapat peringkat 1.

R.A (respon anak): Selain capek, anak menjadi merasa tidak puas dengan dirinya. Selalu berusaha, namun tidak mengetahui bahwa dirinya memiliki batas kemampuan. Ketika tidak mencapai standar orang tua, ia menjadi merasa tidak berharga (ini sedih banget sih). Dapat menyebabkan burnout dan menyerah (hilang kepercayaan diri) atau bahkan sakit fisik.

6. Excessively responsible

Anak dituntut untuk mengemban tanggung jawab yang cukup besar. Misalnya mesti kerja, mengurus pekerjaan rumah tangga yang semestinya dikerjakan oleh orang dewasa, mengurus adik, kakek/ nenek dan tanggung jawab lainnya.

S.O (sikap orang tua): Kondisi ini mungkin terjadi karena faktor ekonomi (kemiskinan). Ada anggota keluarga yang perlu perawatan intesif atau yang dibesarkan oleh seorang single parent; meskipun tidak semuanya.

Menjadikan anak tidak terurus dan justru dibebankan dengan hal-hal yang tidak seharusnya diemban.

R.A (respon anak): Anak menjadi stress, merasa harus bisa seperti orang dewasa sebelum waktunya, kehilangan waktu bermain seperti anak seusianya, dan tidak merasa diperhatikan.

Ketika dewasa bisa menjadi sulit bersosialisasi dengan yang seumuran dan merasa segala hal adalah tanggung jawabnya.

7. Neglecting

Antara ada dan tiada. Hadir namun seperti tidak sepenuhnya hadir. Secara fisik, orang tuanya ada. Setiap hari serumah dan bertemu. Tetapi secara emosional merasa seperti bukan orang tuanya atau bahkan merasa tidak ada.

Jangankan untuk memenuhi kebutuhan, sekedar didengar saja mungkin menjadi sebuah kemewahan baginya.

S.O (sikap orang tua): Bisa jadi karena sibuk kerja, kemisikinan, perceraian, adiksi, atau sakit keras. Orang tua sering kali tidak hadir secara emosional.

Dan parahanya, tidak menyediakan waktu bagi anak sehingga timbul anggapan "Yang penting gue masih bisa ngasih makan, tempat tinggal, dan biaya sekolah" jadi dianggap hal yang lumrah.

R.A (respon anak): Anak menjadi kurang mampu mengembangkan relasi yang dekat dan sehat dengan orang lain. Karena tidak pernah merasa bahwa ada orang yang care (perduli) dengannya dan ada saat dibutuhkannya selama ini. Saking jarangnya interaksi, bisa saja menjadi merasa asing satu sama lain.

8. Rejecting

Painfully self-isolating. Segala yang ditunjukkan anak akan dicounter oleh orang tuanya. Entah itu kebutuhan, emosi, atau sekedar kehadirannya. Sebagaimana penolakan, sakitnya terasa dalam dan tajam.

S.O (sikap orang tua): Biasanya terjadi karena tidak siap mempunyai anak, atau anak terlahir (maaf) cacat. Dan mungkin riwayat orang tua yang dulunya juga pernah mengalami penolakan. Orang tua merasa anak adalah beban sehingga tidak bisa menerimanya. Penolakan bisa berupa isyarat implisit atau bahkan eksplisit.

R.A (respon anak): Mungkin menganggap dirinya terisolasi dan tak berdaya. Terasa sangat terluka. Berpotensi mengembangkan perasaan cemas, bitter, kejam, dan perasaan rendah diri yang amat parah (self-devaluation). Sensitif terhadap penolakan juga saat dewasa.

9. Punitive

Identik dengan penghukuman, kekerasan, dan hal-hal yang sifatnya membuat anak merasa tidak berdaya. Sedikit-sedikit dihukum, diberikan kekerasan fisik/ verbal. Sudah tentu ini merupakan gaya pengasuhan yang tidak sehat sama sekali.

S.O (sikap orang tua): biasanya kombinasi coercive dan perfectionistic. Orang tua menerapkan disiplin yang terlalu ketat dan memberikan perintah yang keras. Orang tua yang agresif dan geram. Padahal pendisiplinan tidak seharusnya seperti itu juga.

R.A (respon anak): Memiliki keinginan kuat untuk membalas dendam. Mungkin merasa bersalah dan menganggap dirinya buruk. Benci akan hukuman orang tua. Bisa jadi berbohong untuk menghindari hukuman. Bahkan ada yang khawatir juga kalau-kalau dirinya secara tidak sadar suatu hari akan mencelakai orang tuanya.

10. Hypochoncdriacal

Konsepnya si anak sudah seperti pasien abadi. Orang tua selalu merasa khawatir dengan kondisi kesehatan anak. Perhatiannya hanya fokus pada kondisi tubuh atau organ tubuh anak.

Mirip dengan "Munchausen Syndrome by Proxy" tetapi ini versi parenting style (gaya pengasuhan) alias lebih mungkin bertahan lebih lama.

S.O (sikap orang tua): Terlalu khawatir, takut anaknya sakit. Bisa jadi anaknya memiliki kerentanan terhadap kesehatan, akan tetapi bisa juga karena orang tua merasa begitu cemas. Akhirnya jadi sering dilarang untuk bermain di luar, tidak diperbolehkan mengikuti kegiatan, dipingit di rumah agar anaknya tidak kecapean.

R.A (respon anak): Mendapatkan simpati (bukan empati) dan pemanjaan dari orang tua. Mungkin melebih-lebihkan gejala untuk tujuan tertentu. Dan sangat berpotensi untuk meminta izin agar tidak mengikuti suatu kegiatan tertentu.

Sepertinya agak terlihat cupu ketika diajak teman untuk bermain atau nongkrong dengan alasan "Ngga dibolehin sama orang tua."

11. Sexually stimulating

Anak diperlakukan sebagai objek seksual. Anak didorong untuk memiliki perilaku seksual seperti orang dewasa, seperti menjadi pekerja seks, pernikahan di bawah umur, dan sebagainya.

S.O (sikap orang tua): Orang tua melakukan pelecehan seksual secara implisit seperti saat mandi, tidur bareng, bermain. Orang tua melampiaskan hasrat seksual ketika pasangannya sedang tidak bisa/ tidak mau.

Perkosaan, pencabulan, pemaksaan perkawinan sangat mungkin terjadi karena parenting style seperti ini.

R.A (respon anak): Anak dipaksa merahasiakan dan dibuat merasa bersalah. Anak merasa bingung, tetapi sering patuh, dan mungkin jadi dependen. Seringkali menghasilkan kebingungan dan rasa permusuhan terhadap orang tua.

Pada intinya ini merusak self-concept anak terkait seksualitasnya bahkan hingga dewasa.

Demikianlah beberapa gaya pengasuhan orang tua yang dapat mempengaruhi pembentukan kepribadian anak ketika dewasa. Ada baiknya bertindak sebagai orang tua yang mampu memberi teladan baik dengan tidak berlebihan terhadap anak yang sangat berpengaruh terhadap perkembangan mental dan emosional anak sejak kecil hingga tumbuh dewasa.

Dikutip dari: berbagai sumber.