Tujuan dan Manfaat Penerapan SCM (Supply Chain Management)
By Numanza Inc.

Pentingnya Penerapan Supply Chain Management Pada Industri FMCG

Numanza.Inc - Apa itu FMCG dan apakah penerapan SCM (Supply Chain Management) merupakan hal yang sangat berpengaruh dalam sebuah indsutri?

Pada industri FMCG (Fast Moving Consumer Goods), terdapat produk yang suatu ketika dapat mengalami lonjakan order, seperti pada saat bulan puasa/lebaran maupun hari besar lainnya.

Bagaimana Perusahaan Memanage Stock Agar Kebutuhan Di Pasar Terpenuhi Dengan Penerapan Supply Chain Management?

FMCG adalah barang yang turn over produksinya cukup tinggi. Disebabkan karena efek demand yang selalu ada di pasar.

Apa contoh produk FMCG yang biasa/sering dibeli?

Dari hasil voting kepada sejumlah masyarakat dalam upaya penerapan supply management chain, dapat dilihat seperti berikut:

  • Minuman Kemasan: 47%
  • Mie Instant:              34%
  • Snack:                      13%
  • Bumbu Dapur:         4,9%

Pada kesempatan kali ini, redaksi akan menggabungkan pemahaman SCM (Supply Chain Management) dan FMCG (Fast Moving Consumer Goods) secara teori berikut praktek dilapangan yang telah dijalani oleh narasumber, tentu dengan sedikit penyesuaian. Karena tidak diperkenankan membocorkan "dapur" operasional sebuah perusahaan. (*at least sebagai gambaran saja

Apa itu Supply Chain Management?

Merujuk definisi yang dilansir dari berbagai sumber, secara sederhana SCM dipahami sebagai sebuah alur sistem yang mengatur proses INPUT raw materials sampai menjadi OUTPUT finished goods, hingga terkirim ke tangan END USER seefisien mungkin.

Dapat dikatakan bahwa SCM ini mencakup ±75% ativitas operasional di pabrik.

Dimulai dari aktivitas INPUT, seperti:

  • Purchase plan raw mats, packaging, sparepart mesin.
  • Memastikan item yang dibeli sesuai standar QC.
  • Make sure spare warehouse bisa cover quantity stock yang dibeli.

Setelah INPUT selesai, tahapan berikutnya kita bergerak ke yang namanya WIP (Work In Progress).

Aktivitas ini meliputi:

  • Pengolahan raw mats ke mesin produksi.
  • QC (Quality Control), memastikan barang hasil produksi sesuai standar.
  • Proses packaging barang.

Setelah memastikan bahwa barang sesuai standar, maka OUTPUT yang sudah jadi ini biasanya diistilahkan sebagai FINISHED GOODS.

Aktivitas OUTPUT ini umumnya meliputi:

  • Menata stock agar barang dapat keluar sesuai FIFO (First In First Out).

Jadi, jangan sampai barang berdiam lama digudang karena tidak diperkenankan.

Apakah Sudah selesai sampai di sini? Jelas belum. Kita masuk ke fase terakhir dari fungsi penerapan SCM, yaitu DISTRIBUTION.

Aktivitas ini meliputi:

  • Plotting kendaraan yang akan digunakan untuk pengiriman. Apakah kirimannya muatan kecil atau besar.
  • Memastikan barang yang dikirim sesuai sales order dari cutomer yang masuk.

Demikian tadi adalah gambaran umum teori SCM (supply Chain Management) mulai dari proses INPUT, WIP, OUTPUT, hingga proses pengiriman ke end user.

Apa itu FMCG (Fast Moving Consumer Goods) yang mempengaruhi Supply Chain Management?

Dari beberapa definisi, FMCG itu suatu produk yang terjualnya sangat cepat. Oleh karena itu, turn over produksi akan menjadi tinggi.

Merujuk pada sebuah artikel Chegg Inc., customer melihat produk FMCG sebagai barang yang murah, cepat habis, dan memiliki banyak opsi.

Dari sudut pandang marketing, FMCG itu dilihat sebagai "beban." Turn over produksi tinggi, volume quantity di pasaran melimpah, akan tetepi customer tidak loyal dengan brand tertentu dikarenakan mimiliki banyak opsi yang dapat mereka pilih.

Apa saja yang termasuk FMCG dalam penerapan Suplly Chain Management?

Chegg Inc. setidaknya menuliskan 4 (empat) kelompok barang yang disebut masuk dalam kategori FMCG, diantaranya:

1. Home and personal care.

2. Foods and beverage.

3. Cigarettes.

4. Alcohol.

Baca Juga: Filosofi Sebutan Angka Dalam Bahasa Jawa

Study kasus dalam penerapan Supply Chain Management.

Dalam kondisi di hari biasa perputaran produksi FMCG sudah sangat cepat. Bagaimana dengan perusahan syrup disaat bulan puasa? Bagaimana cara mereka memanage agar mereka tidak mengalami "STOCK OUT?"

Untuk menjawab problem di atas, kita perlu setidaknya memperhatikan empat aspek:

1. Sales Forecast.

2. Production Planning.

3. Buffer Stock.

4. Delivery System.

♣ SALES FORECAST

Sales forecast adalah perhitungan estimasi penjualan. Idealnya, sales forecast dihitung untuk estimasi penjualan 1-3 bulan ke depan.

Semakin akurat forecast dan aktual realisasinya, maka semakin akurat planning produksi yang dibuat dan semakin efisien.

♣ PRODUCTION PLANNING

Production planning dapat dibuat berdasarkan data sales forecast, history bulanan/tahunan, maupun gabungan keduanya. Tergantung seberapa akurat estimasi dan realisasinya.

Planing product ini biasanya dibagi lagi menjadi dua sub:

  • Fast Moving
  • Slow Moving

♣ BUFFER STOCK

Buffer stock itu simpelnya, cadangan stok untuk antisipasi. Contoh;

"Ketika Anda memiliki stok awal 100 pcs, kemudian di hari itu juga Anda menerima order 200 pcs. Berapakah yang akan Anda produksi, apakah cukup 100 pcs saja?"

"Atau kah Anda akan memproduksi lebih sebagai antisipasi apabila suatu ketika mesin produksi mengalami kerusakan atau bahkan mungkin mendapat order baru secara mendadak?"

♣ DELIVERY SYSTEM

Karena di bulan Ramadhan permintaan akan syrup dipastikan melonjak drastis, sistem pengiriman juga harus diatur.

Jika armada pabrik kewalahan memenuhi demand pasar, bermitra dengan jasa ekspedisi muatan logistik bisa menjadi opsi. Jangan sampai stok di pasaran habis karena telat dalam pengiriman.


Source: berbagai sumber.