Cegah Sedotan Plastik dan Hentikan Penggunaan Sedotan
By Numanza Inc.

Penggunan Sedotan Plastik Yang Mengancam Kehidupan

Tahukah Anda bahwa penggunaan sedotan plastik dapat mengancam kehidupan dan merusak ekosistem?

Ibu Susi Pudjiastuti, Menteri Kelautan dan Perikanan RI telah berulang kali menghimbau untuk hentikan penggunaan sedotan plastik terutama kepada masyarakat yang tinggal di pesisir untuk tidak menggunakan sedotan plastik dan membuang sampah plastik ke laut. Hal ini merupakan ancaman bagi kehidupan dan ekosistem, maka dari itu tolak sedotan plastik dan stop penggunaan sedotan plastik. - Ungkapnya dengan tegas.

Setiap tahun, sebanyak 1,29 juta metrik ton sampah plastik di Indonesia berakhir di lautan. 93.244.847 batang sedotan plastik digunakan di Indonesia per harinya. Oleh sebab itu lah Indonesia berada pada posisi ke dua di dunia sebagai negara penyumbang sampah plastik ke laut, menurut Jenna R. Jambeck, seorang ahli lingkungan, seperti yang dilansir dari beritagar.

Cegah Sedotan Plastik Yang Mencancam Kehidupan

Kita tidak pernah menyadari bahwa kita sering bergantung dengan sedotan dalam penggunaan sehari-hari. Namun banyak orang di sekeliling kita, bahkan mungkin kita sendiri tidak menyadari bahwa sedotan plastik yang kita gunakan mengancam kehidupan ekosistem.

Pernah kah Anda membayangkan jika seekor satwa dapat terbunuh oleh sedotan plastik atau sampah plastik? Hal semacam ini memang terlihat sangat sepele namun sesungguhnya sangat berarti bagi kehidupan apabila kita mau dan sadar akan kesalahan kita sendiri yang kita anggap sepele.

Sedotan Plastik Menjadi Sampah Di Laut Yang Menyakitkan Kesayangan Kita

Apabila tidak dimulai dari diri kita, siapa yang akan memulainya? Sampah dari sedotan plastik dapat menyakitkan sesuatu yang kita sayangi.

Pada cuitan Ibu Menteri Susi Pudjiastuti di akun twiternya, kita dapat menyaksikan begitu sakitnya yang dirasakan oleh seekor penyu yang tidak bersalah seperti yang dapat Anda lihat sendiri disini *Klik >> Don't Suck The Life From Our Oceans.

Ketidakmampuan Mengelola Sampah

Sedotan mungkin dapat memudahkan kita dalam mengonsumsi minuman, akan tetapi dampak dari ketidakmampuan manusia dalam mengelola sampah menjadikan sedotan sebagai penyumbang polusi di lautan.

Solusi Ketergantungan Terhadap Sedotan Plastik Yang Mengancam

Meski demikian, kebutuhan atas manfaat dari sedotan plastik sebenarnya dapat digantikan dengan sedotan pakai ulang (reusable straw) yang berbahan dasar lebih ramah lingkungan.

Solusi atas ketergantungan terhadap sedotan plastik, saat ini tersedia berbagai produk alternatif sebagai pengganti atau mencegah penggunaan sedotan plastik atau sekali pakai yaitu mulai dari sedotan stainless steel, bambu, kaca, hingga bioplastik.

1. Sedotan Saripati Jagung.

Sedotan ini diproduksi oleh perusahaan kemasan makanan dan minuman bioplastik yang berlokasi di Bali.

Sekilas, sedotan ini memiliki penampilan bening yang sangat mirip dengan sedotan plastik pada umumnya. Untuk membedakan produk mereka, produsen sedotan ini memberi label "i'mnotplastic" pada batang sedotan yang mereka produksi.

Kevin Kumala, pemilik dan pendiri ini mejelaskan jika sedotan plastik biasa butuh waktu 40 s/d 60 tahun agar dapat terurai oleh alam, sementara itu sedotan produksinya hanya butuh waktu 180 hari untuk hancur terurai.

Bahan utama sedotan ini berupa saripati jagung, memberikan nilai tambah yang tidak ditawarkan dari produk bioplastik sebelumnya.

"Karena terbuat dari saripati jagung, sedotan kami setelah terurai bisa menjadi kompos dan produk kami telah lulus uji oral toxicity sehingga aman apabila sampai dikonsumsi oleh hewan laut," ujar Kevin.

2. Sedotan Standar Laboratorium.

Amaranila Lalita Drijono, Dokter Kulit dan Kecantikan ini berkeinginan untuk mengajak masayrakat luas peduli dengan lingkungan terutama limbah sedotan plastik. Sehingga ia merancang sendiri sedotan pakai ulang (reusable glass straw) dari bahan kaca yang menjadi sedotan kaca pertama buatan Indonesia yang memiliki standard alat Lab Kedokteran.

Amaranila memilih membuat sedotan pakai ulang dari bahan kaca karena dinilainya lebih higienis dan tahan lama. Sedotan ini akan dipasarkan sepasang berikut sikat bulu sebagai pembersih sedotan.

Bulu yang digunakan untuk sikat pembersih ini menggunakan bahan alami yaitu berupa bulu sapi dan bulu kuda. "Karena terbuat dari kaca, jadi bisa dilihat bersih atau kotor bagian dalamnya, dan saya juga merancang sikat pembersih agar benar-benar pas sehingga dapat membersihkan secara sempurna.

3. Sedotan Bambu Buluh.

Komunitas peduli lingkungan di Gianyar, Bali menjadi salah satu komunitas yang memproduksi sedotan pakai ulang dari bambu.

Dengan nama Griya Luhu, mereka memilih menggunakan bambu buluh yang berdiameter kecil sebagai bahan utama sedotan mereka.

mandhara Brasika, pendiri Griya Luhu mengatakan, awalnya sedotan bambu yang mereka buat hanya ditujukan sebagai barang souvenir saja.

Banyak hal yang dapat kita lakukan untuk menghargai pentingnya sebuah kehidupan yang begitu berarti untuk semua mahluk di bumi ini, diawali dari diri sendiri dengan penuh ketulusan dan tanggun jawab agar dapat menjadi contoh bagi orang lain untuk turut serta dalam menjaga tatanan hidup yang telah dianugerahkan oleh Tuhan untuk tidak kita sia-siakan.

Dikutip dari : Berbagai sumber.